Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Teleskop : Pengertian, Fungsi, Sejarah, Bagian, Jenis

Teleskop : Pengertian, Fungsi, Sejarah, Bagian, Jenis

A. PENGERTIAN TELESKOP
Teleskop bukan hal yang asing dalam pembahasan ilmu Astronomi. Untuk melihat objek yang posisinya sangat jauh dari pengamat dan sulit untuk diamati diperlukan alat bantu. Nah, alat yang digunakan adalah teleskop. Teleskop dikenal juga dengan istilah teropong bintang. Pengertian Teleskopadalah alat yang digunakan dalam bidang Astronomi dengan tujuan untuk membantu memperjelas kondisi benda langit atau benda luar angkasa.

Secara garis besar bentuk teleskop menyerupai bentuk teropong. Akan tetapi fungsinya lebih ditajamkan lagi. Dapat dikatakan demikian karena teropong hanya digunakan untuk melihat benda dalam jarak yang jauh. Akan tetapi teropong bintang memiliki fungsi yang lebih jauh. Dimana kategori jauh yang dimaksud dalam teropong bintang adalah dalam jarak bumi ke luar angkasa.

Adanya teleskop membuat manusia bisa mengamati bentuk-bentuk benda langit atau benda luar beserta pergerakannya. Tanpa penemuan teleskop mukin akan sulit untuk mengamati objek-objek astronomi yang berada diluar angkasa. Nah, pengamatan terhapan objek-objek astronomi inilah yang membuat manusia dapat memperoleh pengetahuan dan informasi untuk memahami astronomi.
Pengertian Teleskop, Sejarah Teleskop, Fungsi Teleskop, Jenis Teleskop
TELESKOP

B. SEJARAH SINGKAT PENEMUAN TELESKOP
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa ditemukannya alat-alat canggih yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan merupakan akibat dari kemajuan teknologi. Ternyata teknologi sudah mualai mengalami perkembangan sejak 5 abad yang lalu. Hal ini berawal dari kenyataan dimana manusia sulit untuk memahami dan menemukan informasi mengenai benda langit. Hingga pada abad ke-15 Galileo Galilei menemukan teleskop refraktor  untuk mengamati benda langit.

Setelah ditemukannya teleskop Galileo, maka manusia dapat mengamati benda-benda langit karena lensa di dalamnya membantu mempertajam penglihatan. Salah satu keuntungan dengan menggunakan teleskop tersebut adalah  manusia dapat mengamati perubahan yang terjadi pada benda langit tesebut. Contohnya perubahan bentuk penampakan Venus dari bentuk Venus Sabit menjadi bentuk Venus Purnama. Bentuk-bentuk tersebut  terjadi karena  perubahan posisi Venus terhadap Matahari.

Seperti yang kita tahu bahwa alat yang ditemukan tidak langsung sempurna. Masih terdapat beberapa keterbatas dari teleskop tersebut. Tetapi dengan tujuan untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan, beberapa ahli berupaya untuk menyempurnakan  teleskop Galileo. Beberapa ahli yang mengembangkan teleskop tersebut adalah  Christian Huygens pada tahun 1629 hingga tahun 1695. Beliau adalah seorang ahli yang menemukan Titan (salah satu satelit Saturnus). Seiring berjalannya waktu, Teleskop dikembangkan secara terus menerus hingga bentuknya menjadi seperti teleskop yang ada saat ini.

C. FUNGSI TELESKOP
Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa teleskop merupakan alat optik yang paling penting dalam bidang Astronomi. Hal ini karena teleskop dapat memberikan pengideraan terhadap objek Astronomi yang diamati. Namun jika dikaji secara lebih detail, ternyata teleskop memiliki beberapa fungsi lain.
Fungsi-fungsi dari teleskop ini adalah sebagai berikut:
  • Untuk memperbesar bayangan benda, sehingga meski jaraknya sangat jauh (luar angkasa) masih dapat terlihat.
  • Memperkuat cahaya yang dapat ditangkapnya sehingga banyangan benda dapat terlihat.
  • Memberikan bentuk gambar suatu objek yang terdapat dalam jarak jauh hingga dapat dilihat oleh mata.
  • Membuat benda-benda yang jaraknya sangat jauh menjadi terlihat seolah-olah lebih dekat.


D. BAGIAN – BAGIAN TELESKOP
Bagian – Bagian dari teleskop adalah sebagai berikut :
1. Lensa dan Cermin
Fungsi dari lensa dan cermin adalah sama, yaitu untuk memfokuskan pantulan atau biasan cahaya ketempat yang sesuai agar dapat dilihat oleh mata. Sebagian mikroskop hanya menggunakan lensa, sebagian lainnya hanya menggunakan cermin, adapula yang menggunakan lensa sekaligus cermin. '

2. Lensa Mata Manusia
Lensa mata sebenarnya bukanlah bagian dalam teleskop. Karena lensa mata adalah lensa yang dimiliki setiap orang agar bisa melihat objek yang sedang diamatinya. Tanpa lensa mata akan sulit untuk menggunakan teleskop. Lensa mata merupakan salah satu bagian penting yang berada dalam indera penglihatan manusia. Sehingga sangat penting fungsinya untuk mengamati suatu objek, terutama objek yang memerlukan ketelitian tinggi dalam pengamatannya.

3. Lensa balrow
Lensa balrow merupakan lensa yang berfungsi sebagai lensa tambahan. Lensa ini diletakkan diantara focuser dan lensa mata. Penggunaan lensa balrow sangat efektif untuk meningkatkan panjangnya fokus teleskop. Jika fokus dalam teleskop semakin panjang maka semakin tinggi perbesaran bayangan benda yang dihasilkan. Umumnya lensa balrow dapat memberbesar bayangan sebesar 2 sampai 5 kali lebih lipat.

4. Mount
Mount digunakan agar teleskop memiliki kedudukan yang tetap. Dengan menggunakan mount ini teleskop diupayakan untuk tidak bergeser posisinya ketika sedang melakukan pengamatan. Terdapat dua tipe mountyang paling sering digunakan pada sebuah teleskop. Tipe tersebut yaitu alt azimuth dan equatorial.

5. Pencari
Bagian penting lain dari teleskop adalah pencari. Pencari digunakan untuk melacak objek-objek astronomi yang terdapat di angkasa. Tanpa adanya bagian ini maka akan menjadi tidak mungkin untuk menemukan suatu dalam jarak yang jauh, terutama luar angkasa. Pencari diletakkan pada sisi utama teleskop.

6. Primer mirror cell
Primer mirror cell merupakan bagian teleskop berupa perakitan lengkap yang berfungsi untuk memegang cermin utama. Selain fungsi tersebut bagian ini juga berfungsi untuk menyesuaikan kedudukan cermin tersebut.

7. Tripod
Tripod lebih sering dikenal dengan istilah kaki tiga. Bagian ini dimanfaatkan sebagai kaki untuk teleskop yang berfungsi sebagai penahan bagi teleskop dalam ketinggian tertentu. Dengan adanya baigan ini pada teleskop, maka akan memudahkan pengamat untuk mengamati objek astronomi diluar angkasa dalam posisi berdiri.

8. Tabung teleskop
Tabung teleskop sering disebut dengan sebutan tabung optik. Tabung ini merupakan tabung hampa yang membentuk bagian dari sebuah teleskop.

9. Eyepieces
Eyepieces merupakan bagian teleskop yang digunakan untuk memperbesar objek yang diamati.

10. Focuser
Focuser merupakan bagian yang melekat dengan tabung optic. Bagian ini digunakan untuk menggerakkan tabung internal dengan tujuan untuk mencapai fokus.

11. Findescope
Findescope merupakan bagian dari teleskop yang berfungsi untuk memperbesar kolom foto dan untuk suatu pemusatan dalam peneropongan bintang,

E. KLASIFIKASI MACAM – MACAM JENIS TELESKOP
Teleskop dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam. Secara umum teleskop dapat diklasifikan menjadi tiga macam.

Klasifikasi macam-macam teleskop tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Teleskop reflector
Teleskop reflector merupakan jenis teleskop yang menggunakan cermin untuk menangkap cahaya, kemudian memantulkannya. Cermin ini berfungsi sebagai pengganti lensa.

2. Teleskop refraktor
Teleskop refraktor adalah teleskop yang menggunakan lensa dalam sebagai media untuk menangkap cahaya. Dalam teleskop ini terdapat beberapa lensa. Beberapa contoh teleskop yang menggunakan lensa sebagai media untuk menangkap cahaya adalah sebagai berikut:
  • Teleskop Galilei
  • Teleskop bintang
  • Teleskop bumi
  • Teleskop prisma

3. Teleskop catadioptrik
Teleskop catadioptrik merupakan salah satu jenis teleskop  berupa gabungan dari teleskop refraktor dan teleskop reflekstor. Dalam teleskop ini digunakan dua media untuk menangkap cahaya. Media tersebut adalah cermin dan lensa.
Galaksi Bima Sakti : Pengertian, Ciri, Pembentukan

Galaksi Bima Sakti : Pengertian, Ciri, Pembentukan

A. PENGERTIAN GALAKSI BIMA SAKTI
Galaksi merupakan suatu sistem yang terdiri dari kumpulan bintang-bintang dan benda-benda luar angkasa yang tersusun secara teratur. Umumnya galaksi terdiri dari miliaran bintang dengan warna, ukuran dan karakteristik yang beragam. Dijagad raya ini terdapat banyak galaksi. Salah satu galaksi yang paling terkenal adalah galaksi tempat bumi berada, bima sakti. Galaksi bima sakti biasa disebut dengan istilah Milky Way Galaxy. Galaksi Bima Sakti adalah Galaksi yang menjadi tempat tinggal kita.

Jika tadi kita telah menyebutkan bahwa galaksi bima sakti adalah galaksi tempat tinggal kita, maka jelas bahwa galaksi Bima Sakti merupakan galaksi yang di dalam terdapat Matahari, 8 planet, beberapa planet kerdil, asteroid dan benda langit lainnya yang membentuk suatu sistem yang terikat dengan gravitasi.
Pengertian dan Ciri Galaksi Bimasakti
GALAKSI BIMASAKTI
Untuk lebih spesifiknya maka kita bisa memahami pengertian Galaksi Bima Sakti berdasarkan asal katanya. Bisa sakti awalnya berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata Via Lactea berasal yang berarti susu. Sehingga ketika dibawa kedalam bahasa Inggris kata-katanya menjadi Milky Way Galaxy. Hal ini berarti bahwa galaksi bima sakti merupakan galaksi yang memiliki warna seperti susu. Galaksi ini berbentuk spiral.

Berdasarkan penjelasan diatas pengertian Galaksi Bima Sakti adalah Galaksi yang menjadi tempat tinggal manusia, yang tersusun oleh matahari dan benda langit lainnya yang terikat dalam satu garvitasi dan berbentuk spiral dengan warna seperti susu.

B. SEJARAH DAN TEORI TERBENTUKNYA GALAKSI BIMA SAKTI
1. Sejarah Terbentuknya Galaksi
Jika kita bertanya bagaimanakah cerita terbentuknya galaksi? maka kita perlu mengetahui terlebih dahulu tentang bagaimana sejarah terbentuknya alam semesta. Dimulai dari sekitar 600 juta tahun setelah terjadi big bang, bintang-bintang purba yang memiliki ukuran utuh dan padat terbentuk setelah melewati masa kegelapan yang cukup panjang. Bintang-bintang purba inilah yang nantinya akan menyusun Galaksi Bima Sakti.  Susunan yang membentuk bintang-bintang purba ini adalah kabut hidrogen yang menyebabkan era kegelapan. Ketika bintang-bentang purba ini terbentuk era kegelapan telah berakhir. Faktor utama yang menjadi penyebab terbentuknya bintang purba adalah gaya gravitasi.

Bintang-bintang purba tersebut hanya berumur sekitar 10 juta tahun. Kemudian akan mengalami hipernova yang menjadi penyebab hancurnya bintang tersebut menjadi debu nebula. Kemudian nebula inilah yang akan membentuk bintang-bintang baru dengan ukuran yang lebih kecil. Terjadinya hipernova disebabkan oleh bintang purba yang jatuh kedalam gravitasinya sendiri. Namun, pada peristiwa ini hal unik terjadi. Saat inti bintang purba semakin menyusut akibat gravitasinya, hal sebaliknya terjadi pada badan bintang purba. Bagian badan bintang purba semakin besar dan siap meledak. Ketika bintang purba ini meledak akan terbentuk beberapa bintang baru hingga menjadi kumpulan bintang-bintang calon galaksi. Calon-calon galaksi ini saling mendekat dan bergabung menadi satu galaksi besar. Jadi, Galaksi Bima sakti awalnya hanya terbentuk dari beberapa bintang purba saja. Bitang tersebut meledak dan membentuk bintang yang baru. Siklus yang terus terjadi hingga terbentuklah calon-calon galaksi yang tergabung menjadi satu galaksi yang utuh dan disebut galaksi bima sakti.

Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa dalam pembentukannya galaksi bima sakti memerlukan seikitnya 4 tahap. Tahap tersebut yaitu: tahap pertama bintang purba terbentuk dari nebula di masa kegelapan, kemudian bintang purba meledak dan tencipta bintang purba yang baru, bintang purba yang baru ini mengalami pembelahan dan kembali menyatu dalam bentuk galaksi.

2. Teori Hipotesis Fowler
Teori ini adalah yang dikemukakan oleh Fowler pada tahun 1957, teori ini juga dikenal dengan sebutan hipotesis Fowler, perlu digarisbawahi bahwa hipotesis ini menjelaskan tentang pembentukan galaksi secara umum, bukan hanya untuk galaksi bima sakti saja. Fowler menjelaskan bahwa 12000 juta tahun yang lalu galaksi masih dalam benttuk gas hidrogen dengan ukuran yang sangat besar berada diluar angkasa. Hidrogen tersebut terus bergerak dengan gerakan rotasi sehingga berbentuk bulat. Karena memiliki gaya berat maka ia mengalami kontraksi. Komponen penyusunnya mengalami gerakan yang berkisar secara lambat dan memiliki berat jenis yang besar sehingga terbentuklah bintang-bintang. Temperatur bintang-bintang tersebut semakin menurun setelah berpuluh-puluh ribu tahun. Bentuk bintang tersebut cebderung tetap seperti halnya matahari. Kejadian ini terjadi pada pusat galaksi, yaitu tempat dilahirkannya bintang-bintang baru, baik secara perlahan maupun eksplosif.

Berdasarkan hipotesis tersebut dapat kita jelaskan bahwa galaksi terbentuk dari kumpulan gas hidrogen yang memadat dan membentuk bintang. Bintang tersebut pecah, akan tetapi karena terikat gaya gravitasinya ia kembali menyatu dan membentuk galaksi.

C. CIRI – CIRI DAN KARAKTERISTIK GALAKSI BIMA SAKTI
Setiap galaksi tentunya memiliki ciri-ciri sendiri yang membedakannya dengan Galaksi lain. Nah, begitu pula dengan Galaksi Bima Sakti. Ciri umum yang harus kita ketahui dari galaksi bima sakti adalah ia berbentuk spiral dengan warna seperti susu. Untuk lebih memahaminya maka kita akan melihat dari karakteristiknya. Karakteristik galaksi Bima Sakti adalaah sebagai berikut:
  • Dilihat dari segi bentuknya maka, galaksi Bima Sakti berbentuk spiral menyerupai jalan.
  • Dilihat dari kemiripan bentuknya dengan suatu benda, maka dapat disebutkan bahwa galaksi ini memiliki bentuk yang mirip dengan cakram.
  • Jika dilihat dari segi warna, galaksi ini memiliki warna menyerupai warna susu.
  • Garis tengah atau diameter Galaksi ini kira-kira 100.000 tahun cahaya.
  • Bagian pusat galaksi memiliki diameter 3,26 tahun cahaya.
  • Rata-rata garis tengahnya diperkirakan memiliki ketebalan rata-rata 1000 tahun cahaya.
  • Bima sakti memiliki 200 miliar – 400 miliar bintang.
  • Piringan gas bima sakti memiliki ketebalan 12000 tahun cahaya.
  • Kecepatan rotasi galaksi bima sakti adalah 914.000 km/jam.
  • Dilihat dari segi usianya, bima Sakti memiliki usia 4,5 tahun cahaya lebih tua dari matahari.
  • Galaksi Bima Sakti Memancarkan cahaya yang terang, namun terhalang oleh galaksi lain.

D. PERGERAKAN GALAKSI BIMA SAKTI
Sebelum membahas mengenai pergerakan galaksi bima sakti, maka perlu kita ketahui lebih dulu apakah galaksi bergerak? Jika bergerak apa yang diorbitnya? Nah, galaksi ternyata memiliki kelompok. Terdapat beberapa galaksi dalam setiap kelompoknya. Begitu pula dengan galaksi bima sakti. Galaksi bima sakti ini dikelompokkan dengan galaksi tetangganya. Jumlah tetangga galaksi bima sakti adalah 48 galaksi.

Pada setiap kelompok terdapat grup lokal yang terdiri dari beberapa galaksi dengan letak berdekatan. Pada grup lokal bimasakti terdapat 2 buah galaksi besar, yaiu andromeda dan bimasakti sendiri. Sehingga kondisi dari group local ini ini sangat bergantung pada massa galaksi Bima Sakti dan massa galaksi Andromeda. Pusat massa dalam grup lokal galaksi berada diantara galaksi bima sakti dan galaksi Andromeda. Titik pusat massa ini dikenal dengan istilah barycenter.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh beberapa ahli, ternyata bima sakti bergerak mendekati Andromeda dengan gerakan menyamping yang agak serong, sama seperti gerakan Andromeda mendekatinya. Bima sakti dan Andromeda memiliki massa yang hampir sama sehingga keduanya bergerak mengelilingi Barycenter dengan orbit yang berbentuk elips. Hal yang perlu diketahui adalah jika laju gerakan menyamping tersebut adalah nol, maka dapat disimpulkan bahwa kedua galaksi ini salaing mendekati satu sama lain dengan bentuk orbit tegak lurus. Galaksi bima sakti memiliki kecepatan rotasi galaksi 914.000 km/jam.
Galaksi Andromeda : Pengertian, Pembentukan, Ciri

Galaksi Andromeda : Pengertian, Pembentukan, Ciri

A. PENGERTIAN GALAKSI ANDROMEDA
Sebelum mebahas mengenai apa itu galaksi Andromeda maka kita akan lebih dulu membahas mengenai apa itu galaksi. Galaksi merupakan suatu sistem yang terdiri dari kumpulan bintang-bintang dan benda-benda luar angkasa yang tersusun secara teratur. Umumnya galaksi terdiri dari miliaran bintang dengan warna, ukuran dan karakteristik yang beragam. Di jagad raya ini terdapat banyak galaksi. Nama galaksi yang paling sering kita dengar selain galaksi Bima Sakti adalah Galaksi Andromeda.
Pengertian Galaksi Andromeda, Ciri Galaksi Andromeda
GALAKSI ANDROMEDA
Galaksi Andromeda ini memiliki beberapa nama lain yaitu Messier 31 (M31) atau NGC 224. Galaksi Andromeda adalah galaksi tetangga dari galaksi kita, Bima Sakti. Galaksi ini termasuk jenis galaksi spiral yang berjarak 2,5 tahun cahaya dari galaksi Bima Sakti. Selain dengan Bima Sakti Galaksi ini juga dapat dilihat dengan mata telanjang ketika malam hari pada saat situasi yang cerah.

B. SEJARAH DAN TEORI TERBENTUKNYA GALAKSI ANDROMEDA
1. Sejarah terbentuknya Galaksi Andromeda
Galaksi Bima Sakti lebih dulu terbentuk dibandingkan dengan Galaksi Andromeda. Hal ini karena menurut beberapa perkiraan galaksi Andromeda memiliki usia yang lebih muda dibandingkan dengan galaksi Bima Sakti. Sekitar ribuan tahun setelah galaksi bima sakti terbentuk, dari debu sisa terbentuklah galaksi Andromeda. Diperkirakan ketika galaksi Bima Sakti terbentuk, terdapat pula beberapa bintang purba yang membelah dan membentuk calon galaksi hingga akhirnya membentuk beberapa galaksi yang memiliki ukuran kecil.

Terdapat dua Galaksi yang memiliki ukuran kecil yang bergerak saling mendekati hingga saling bertabrakan satu sama lainnya. Karena tabrakan tersebut terbentuklah galaksi Andromeda yang didalamnya terdapat bintang yang terikat dengan gravitasinya. Hingga kemudian Galaksi Andomeda terus mengalami perkembangan dengan membentuk beberapa komponen di dalamnya. Komponen-komponen tersebut seperti: bintang, cincin gas dan debu. Sampai saat ini diperkirakan bintang-bintang tersebut berjumlah sekitar 1 triliun bintang. Tabrakan kedua galaksi kecil tadi terjadi sekitar Sembilan miliyar tahun yang lalu. Perkembangan terus terjadi hingga Galaksi Andromeda berbentuk seperti yang kita ketahui saat ini.

Namun demikian tidak ada yang tau pasti bagaimana galaksi Andromeda terbentuk, oleh karena itu muncul beberapa teori lain yang dapat dijadikan pedoman dan cukup masuk akal, yaitu :
a. Teori Hipotesis Fowler
Salah satu teori tentang terbentuknya galaksi andromeda adalah teori dikemukakan oleh Fowler pada tahun 1957, teori ini dikenal dengan sebutan hipotesis Fowler. Fowler menjelaskan bahwa 12000 juta tahun yang lalu galaksi masih dalam bentuk gas hidrogen dengan ukuran yang sangat besar. Hidrogen tersebut terus bergerak dengan gerakan rotasi sehingga berbentuk bulat, karena memiliki gaya berat maka ia mengalami kontraksi. Komponen penyusunnya mengalami gerakan yang berputar secara lambat dan memiliki berat jenis yang besar sehingga terbentuklah bintang-bintang. Temperatur bintang-bintang tersebut semakin lama semakin menurun setelah berpuluh-puluh ribu tahun. Bentuk bintang tersebut cenderung tetap seperti halnya matahari. Hipotesis ini tersebut diyakini oleh para ahli terjadi pada pusat galaksi, yaitu tempat dilahirkannya bintang-bintang baru baik secara perlahan maupun eksplosif.

Berdasarkan hipotesis tersebut dapat kita jelaskan bahwa galaksi terbentuk dari kumpulan gas hidrogen yang memadat dan membentuk bintang. Bintang tersebut pecah, akan tetapi karena terikat gaya gravitasinya ia kembali mengumpul pada area yang luas dan membentuk galaksi. Begitu pula dengan galaksi Andromeda.

b. Teori dan Hipotesis Lainnya
Tetapi adapula teori lain yang menyatakan bahwa Galaksi Andromeda terbentuk karena adanya benturan antara dua galaksi. Menurut perkiraan mereka Galaksi Andromeda terus berkembang dari waktu-kewaktu. Hingga akhirnya properti di Andromeda dilengkapi oleh bintang cincin gas dan debu. Kemudian adajuga yang mengatakan bahwa tabrakan dua Galaksi yang terjadi sekitar 9 miliar tahun lalu yang membentuk Galaksi Andromeda seperti saat ini.
Satu persepsi Teori lain menyata bahwa Andromeda terbentuk karena menelan Galaksi-Galaksi lain yang memiliki ukuran lebih kecil dan berada disekitarnya sehingga ukurannya sebesar saat ini.

C. CIRI – CIRI DAN KARAKTERISTIK GALAKSI ANDROMEDA
Galaksi Andromeda merupakan galaksi tetangga dari galaksi Bima Sakti karena jaraknya yang tidak jauh dari galaksi kita, Bima Sakti. Andromeda termasuk galaksi dengan ukuran yang besar, hampir serupa dengan Bima Sakti. Kemiripan galaksi Andromeda dengan galaksi Bima Sakti juga dapat dilihat dari jenisnya. Galaksi Andromeda merupakan jenis Galaksi yang berbentuk spiral begitu juga dengan galaksi Bima Sakti. Namun tentunya galaksi Andromeda memeliki ciri-ciri yang membendakannya dengan Galaksi lain. Adapun ciri-ciri galaksi Andromeda tersebut adalah sebagai berikut:
  • Galaksi Andromeda merupakan Galaksi yang memiliki bentuk spiral.
  • Memiliki struktur yang mirip dengan galaksi Bima Sakti.
  • Terletak di belahan langit utara sekitar 41 derajat di sebelah utara garis khatulistiwa langit (terdapat pada rasi bintang Andromeda).
  • Bagian tepi Galaksi Andromeda terlihat lebih redup dibandingkan bagian tengahnya.
  • Memiliki pergerakan yang cenderung mendekati galaksi Bima Sakti dengan kecepatan sekitar 300 km/s.
  • Galaksi Andromeda dapat terlihat dengan jelas ketika malam tidak ada cahaya bulan (saat terjadi gerhana bulan).
  • Dikelilingi oleh piringan gas dan debu.
  • Jarak Galaksi Andromeda dengan Galaksi Bima Sakti adalah sekitar 2,5 juta tahun cahaya.
  • Dikelilingi bintang dengan spectrum warna merah jambu.


Galaksi Andromeda juga memiliki karakteristik yang berbeda dengan galaksi lain jika ditinjau dari fisiknya. Adapun karakteristik Galaksi Andromeda tersebut adalah sebagai berikut:
  • Di dalam Galaksi Andromeda terdapat 1 triliun bintang
  • Jika diamati bentuk Galaksi Andromeda terlihat seperti pita yang berbentuk lonjong.
  • Piringan gas dan debu yang mengelilinginya memiliki lebar skitar 260.000 tahun cahaya.
  • Meskipun ukuran sering dikatakan mirip Bima Sakti, namun ternyata Galaksi Andromeda memiliki ukuran yang lebih kecil di Bandingkan dengan Galakssi Bima Sakti.
  • Magnitudo tampak pada galaksi Andromeda adalah sekitar 3,44 V.
  • Warna yang dipancarkan galaksi Andromeda adalah biru tua karena komposisi tersusun atas bintang berukuran besar.
  • Diameter Galaksi Andromeda diperkiraan sekitar 70.000 tahun cahaya hingga 80.000 tahun cahaya. Pendapat lain menyatakan bahwa diameter spiral dari Galakssi Andromeda adalah sekitar 220.000 tahun cahaya.
  • Jari-jari Galaksi ini sulit di tentukan karena bentuknya spiral namun jika dilihat dari diameternya, maka jari-jari Galaksi Andromeda adalah sekitar 35.000 tahun cahaya hingga 40.000 tahun cahaya.

D. PERGERAKAN GALAKSI ANDROMEDA
Ternyata galaksi Andromeda juga mengalami pergerakan. Nah, yang menjadi pertanyaan kita tentu saja seperti apakah pergerakannya? Berkaitan dengan pergerakan galaksi Andromeda maka yang lebih dulu kita bahas adalah pengelompokkan dalam galaksi. Ternyata galaksi juga tersusun atas kelompok-kelompok, dimana dalam satu kelompok tersusun atas beberapa galaksi. Begitu pula dengan galaksi Andromeda, Galaksi Andromeda dikelompokkan dengan Galaksi Bima Sakti dan beberapa galaksi tetangganya. Jumlah tetangganya adalah sekitar 48 galaksi.

Kemudian di dalam setiap kelompok dibuat grup lokal antar galaksi yang berdekatan. Dalam grup lokalnya, galaksi Andromeda dan Bima Sakti merupakan galaksi terbesar dibandingkan yang lainnya. Pusat massa dalam grup lokal galaksi berada diantara galaksi bima sakti dan galaksi Andromeda. Titik pusat massa tersebu  dikenal dengan istilah barycenter.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh beberapa ahli, ternyata Galaksi Andromeda bergerak mendekati Bima Sakti dengan gerakan menyamping yang agak serong, begitu pula dengan gerakan Galaksi Bima Sakti. Pergerakannya yang cenderung mendekati galaksi Bima Sakti memiliki kecepatan sekitar 300 km/s.

Kedua galaksi ini memiliki massa yang hampir sama sehingga keduanya bergerak mengelilingi Barycenter dengan orbit yang berbentuk elips. Hal yang perlu diketahui adalah jika laju gerakan menyamping tersebut adalah nol, maka dapat disimpulkan bahwa kedua galaksi ini salaing mendekati satu sama lain dengan bentuk orbit tegak lurus. Dengan geraakan yang terjadi secara terus menerus dan bentuk orbit yang tegak lurus tersebut maka sangat memungkin jika beberapa ribu atau juta tahun yang akan datang Galaksi Andromeda dan Galaksi Bima Sakti akan mengalami tabrakan.
Bulan : Pengertian, Ciri, Fase, Pembentukan, Orbit

Bulan : Pengertian, Ciri, Fase, Pembentukan, Orbit

A. PENGERTIAN BULAN
Sama hal dengan planet lain bumi juga memiliki satelit. Salah satu satelit bumi adalah bulan. Bulan adalah satu-satunya satelit alami yang dimiliki oleh bumi. Jika ditinjau dari ukurannya bulan merupakan satelit alami yang menempati urutan kelima terbesar dari satelit alami yang terdapat dalam tata surya. Kata  bulan umum dikenal dengan Moon yang berasal dari mone yang berkembang dari kata moone. Kata moone berasal dari kata dalam bahasa inggris kuno mona. Dalam bahasa Inggris modern nama bulan dikenal dengan  istilah luna atau lunar.

Jika diperhatikan dari bumi bulan terlihat memiliki sinar yang terang. Namun nyatanya, jika dipelajari lebih lanjut bulan sebenarnya tidak memiliki sinar sendiri. Sinar yang terlihat dari bulan merupakan pantulan sinar matahari yang dipancarkan bulan.
Pengertian Bulan, Ciri Bulan, Fase Bulan, dan Orbit Bulan
BULAN
B. SIFAT DAN KARAKTERISTIK (CIRI) BULAN
1. Struktur bulan
a. Kerak Bulan
Kerak bulan merupakan lapisan bulan yang paling luar yang melindungi lapisan dibawahnya.
b. Mantel bulan
Matel bulan merupakan lapisan dibawah kerak bulan yang menyelimuti lapisan inti.
c.  Inti
Inti bulan berbeda dengan benda langit lainnya. Inti bulan terbagi menjadi dua yaitu inti luar dan inti dalam. Inti dalam bulan kaya akan besi yang berada pada  radius sekitar 240 km. Sedangkan inti luarnya berupa fluida (cair) yang tersusun dari besi cair, dengan radius sekitar 300 km.

2. Permukaan Bulan
kita dapat melihat bulan dari bumi dengan cukup jelas tanpa teleskop dan binokular. Dapat dilihat bahwa Bulan memiliki permukaan yang kecerahannya tidak sama, tedapat bagian yang terang dan bagian yang gelap. Secara kasat mata, Bulan seperti memiliki permukaan yang halus. Namun hal itu terbantahkan karena Galileo mendapati bahwa permukaan Bulan tidaklah rata, tetapi berbukit-bukit dan memiliki banyak kawah. Dan karakteristik permukaan Bulan itu juga berhubungan dengan kecerahannya. Daerah yang tampak terang memiliki permukaan yang berbukit-bukit (dataran tinggi) dan penuh kawah, sedangkan daerah yang tampak lebih gelap adalah permukaan yang memiliki sedikit kawah. Dataran tinggi dibulan disebut mare.

3. Medan Gravitasi Bulan
Sebelumnya telah dilakukan pengukuran medan gravitasi bulan dengan menggunakan pelacakan pergeseran Doppler pada sinyal radio yang dipancarkan oleh pesawat ruang angkasa yang mengorbit Bulan. Gravitasi bulan berbentuk konmas, anomali gravitasi positif yang terkait dengan beberapa basin tubrukan besar, sebagian disebabkan oleh aliran lava basaltik mare padat yang memenuhi basin tersebut.  Sering terjadi perdebatab  mengenai gravitasi Bulan karena lava yang mengalir dengan sendirinya tidak bisa menjelaskan bentuk gravitasi Bulan, dan beberapa konmas yang ada sama sekali tidak terkait dengan vulkanisme mare.

4. Medan Magnet Bulan
Medan magnet yang dimiliki oleh bulan jauh lebih kecil dibandingkan dengan medan magnet bumi. Medan magnet eksternal bulan sekitar 1–100 nanotesla. Bulan tidak memiliki medan magnet dipolar global, medan magnetnya dihasilkan oleh  geodinamo inti logam cair, dan hanya memiliki magnetisasi kerak.

5. Atmosfer Bulan
Jika bumi memiliki atmosfer maka bukan sangat berbeda dengan bumi karena tidak memiliki atmosfer. Hal ini disebabkan karena bagian dalam Bulan terlalu dingin untuk hadirnya aktivitas vulkanik. Aktivitas vulkanik termasuk salah satu penghasil gas dan pembentuk atmosfer di masa awal pembentukannya. Penyebab lain adalah karena massa Bulan terlalu kecil sehingga gaya gravitasi yang dihasilkan tidak cukup untuk menahan gas-gas yang terbentuk. Kecepatan lepas di Bulan hanyalah 2,4 km/detik, bandingkan dengan kecepatan lepas di Bumi yang sebesar 11,2 km/detik. Dengan kecepatan lepas sekecil itu, gas yang ada di Bulan dapat bergerak lepas dari pengaruh gravitasi Bulan, sehingga tidak ada udara di permukaannya.

6. Musim Bulan
Bulan memiliki kemiringan sumbu eliptika yang kecil hanya sekitar 1,5424°. Hal ini menyebabkan variasi iluminasi surya pada Bulan memiliki musim yang jauh lebih sedikit, dan detail topografi memiliki peran penting dalam efek perubahan musim. Di bulan terdapat empat wilayah pegunungan di pinggiran kawah Peary di kutub utara Bulan, yang diduga tetap disinari oleh Matahari di sepanjang hari Bulan, menciptakan puncak cahaya abadi. Sedangkan dikutub selatannya tidak terdapat wilayah seperti itu. Selain hal tersebut, di bulan juga terdapat wilayah yang tidak menerima cahaya secara permanen di bagian bawah kawah kutub, dan kawah-kawah gelap ini suhunya sangat dingin. Suhu musim panas terendah di kawah kutub selatan mencapai 35 K  dan ketika musim dingin suhunya hampir 26 K di kawah Hermite di kutub utara.

C. SEJARAH DAN TEORI TERBENTUKNYA BULAN
Jika kita membahas tentang sejara terbentuknya bulan, maka akan sulit menceritakannya secara detail. Hal ini karena terdapat beberapa pandangan mengenai teori terbentuknya bulan. Jadi akan lebih jelah sejarah terbentuknya bulan jika kita melihat dari teori-teori terbentuknya. Sejauh ini terdapat 4 teori terbentuknya bulan. Teori terbentuknya bulan adalah sebagai berikut:

1. Teori Co-Akresi
Teori ini merupakan teori yang dikemukakan oleh Seorang astronom Prancis bernama Edouard Roche.  Dalam teori ini beliau menjelaskan bahwa Bulan tercipta karena terkondensasi dari materi kemudian berputar seperti awan debu panas yang menciptakan Bumi. Jadi inti dari teori ini dapat dijelaskan bahwa bumi dan bulan terbentuk dalam waktu yang sama dengan susunan materi yang sama. Awan debu panas ini perlahan terkontraksi kemudian mendingin membentuk cincin gas yang berada di sekitar bumi. Cincin Gas g inilah yang nantinya akan membentuk bulan.

Namun teori dapat terpatahkan dengan alasan ketidakmampuannya dalam menjelaskan momentum sudut dalam sistem Bumi-Bulan. Dengan kata lain  jika bumi dan bulan terbentuk dari materi yang sama maka kandungannya pun seharusnya sama. Namun kenyataannya bulan hanya memiliki inti besi yang relatif kecil jika dibandingkan dengan bumi.

2. Teori Fisi
Teori fisi disebut juga dengan istilah teori pembelahan. Teori ini dikemukakan oleh George Darwin putra dari ilmuan terkenal Charles Darwin. Dalam teori ini menjelaskan b bahwa Bulan secara bertahap bergerak menjauh.dimana pada awalnya bumi dan bulan merupakan satu benda langit yang menyatu. Kemudian bumi berputar dengan putaran yang semakin cepat sehingga, sebagian kecil dari Bumi terpisah kemudian membentuk Bulan. Jika dikatakan awalnya menyatu maka seharusnya putaran Bumi dan orbit bulan sesuai dengan pola yang diprediksi oleh teori fisi ini.

3. Teori Penangkapan
Teori penangkapan ini dikenal juga dengan nama teori Capture. Teori ini ditemukan oleh Thomas Jefferson Jackson See pada tahun 1909. Teori ini menjelaskan bahwa gravitasi Bumi menarik Bulan yang terbentuk di tempat berbeda dalam tata surya. Namun, kemudian bergerak mendekati Bumi sehingga ditangkap oleh gravitasi Bumi.

Skenario penangkapan inilah yang menarik astronot Appolo membawa batu bulan ke Bumi. Mineral di dalamnya ternyata mirip dengan yang ada di mantel Bumi. Kelemahan dari teori ini adalah tidak dapat menjelaskan perbedaan kandungan besi antar Bumi dan Bulan.

4. Teori Tubrukan Besar
Teori ini dikemukakan pada tahun 1974 yang  menceritakan bahwa Bulan diperkirakan terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu. Bulan terbentuk dari serpihan yang terlepas setelah sebuah benda langit seukuran Mars bertubrukan dengan Bumi. Serpihan tersebut bernama Theia. Tabrakan antara keduanya terjadi cukup besar sehingga terjadi pecahan bumi dan Theia. Pecahan tersebut berupa materi bereda disekitaran bumi. Materi tersebut kemudian saling terikat oleh gravitasi hingga membentuk Bulan.
Pengertian Bulan, Fase Bulan dan Orbit Bulan
BULAN
D. ORBIT REVOLUSI DAN ROTASI BULAN
Bulan melakukan tiga gerakan sekaligus, yaitu berotasi pada porosnya, beredar mengelilingi bumi, dan bersama bumi beredar mengelilingi matahari. Periode revolusi bulan mengelilingi Bumi ternyata sama dengan periode rotasinya. Artinya, kecepatan bulan mengitari bumi sama dengan rotasi pada porosnya. Akibatnya, permukaan bulan terlihat dari bumi selalu sama. Sama halnya dengan planet, bulan tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi bulan tampak terang pada malam hari. Ini dikarenakan bulan memantulkan cahaya dari matahari. Penampakan bulan dari bumi tidak sama. Perubahan penampakan bulan tersebut dinamakan fase-fase bulan, di antaranya bulan sabit, bulan purnama bulan, bulan separuh, dan bulan susut.

Rotasi Bulan adalah perputaran Bulan pada porosnya dari arah barat ke timur. Bulan mengitari Bumi sekali dalam setiap 27.322 hari. Perputaran ini setidaknya  memerlukan kurang lebih 27 hari untuk bulan berotasi sekali dalam porosnya. Eski terlihat sama, orbit dan rotasi tidak selalu sama. Bulan mengitari Bumi dengan orbit elips. Ketika bulan sangat dekat dengan Bumi, rotasinya akan menjadi lebih pelan. Ketika bulan sangatlah jauh, rotasinya lebih cepat, jadi kecondongan 8 derajat terlihat ke arah barat.

Periode perputaran bulan tidak selalu sama dengan orbit disekitar planet.  Gravitasi bulan mempengaruhi pasang surut air laut di Bumi, seperti gravitasi Bumi mempengaruhi bulan. Tetapi karena Bulan mempengaruhi lautan, Bumi menarik keraknya, membentuk pasang pada titiknya terhadap Bumi.

E. FASE BULAN
Sam seperti bumi, bulan juga mengalami rotasi dan revolusi. Periode rotasi dan revolusinya sama. Bulan adalah 27 hari 7 jam 43,2 menit untuk berevolusi. Saat berevolusi, luas bagian Bulan yang terkena sinar Matahari juga berubah-ubah. Perubahan bentuk bulan tersebut disebut fase bulan. Dalam sekali revolusi, Bulan mengalami 8 fase. 8 fase bulan tersebut adalah sebagai berikut:
Pengertian Bulan, Ciri Bulan, Fase Bulan
FASE BULAN
1. Fase  Bulan Baru (New Moon)
Pada fase ini sisi Bulan yang menghadap Bumi tidak menerima cahaya dari matahari, sehingga Bulan tidak dapat terlihat dari bumi. Fase ini terjadi di hari pertama, ketika Bulan berada diposisi 0 derajat.

2. Fase Sabit Muda (Waxing Crescent)
Pada fase ini, kurang dari setengah bagian dari Bulan yang menyala. Selama fase ini berlangsung bagian bulan yang terlihat dari bumi semakin lama akan semakin besar. Fase ini terjadi pada hari keempat ketika Bulan berada di posisi 45 derajat. Jika dilihat dari Bumi, maka terlihat penampakan bulan yang  melengkung seperti sabit.

3. Fase Kuartal III (Third Quarter)
Pada fase ini bulan tampak seperti setengah lingkaran. Fase ini terjadi di hari ke delapan ketika Bulan berada di posisi 90 derajat.

4. Fase 4 (Waxing Gibous)
Fase ini dimulai dengan setengah bagian yang tampak akan lebih besar. Jika diperhatikan dari bumi akan terlihat seperti cakram yang biasa disebut dengan bulan cembung. Fase ini terjadi pada hari kesebelas, ketika bulan berada pada posisi 135 derajat.

5. Fase bulan purnama (Full Moon)
Pada fase ini, Bulan berada pada sisi berlawanan dengan Bumi, sehingga cahaya Matahari sepenuhnya terkirim ke Bulan. Fase ini terjadi di hari ke empat belas, ketika Bulan berada pada posisi 180 derajat. Fase ini bulan terlihat seperti lingkaran penuh atau sering dikenal dengan istilah bulan purnama.

6. Fase 6 (Wanning Gibous)
Pada fase ini bagian bulan yang dari bumi akan semakin kecil secara bertahap. Fase ini terjadi di hari ketujuh belas, ketika Bulan berada pada posisi 225 derajat. Penampakannya kembali seperti cakram.

7. Fase Kuartal I (First Quarter)
Pada fase ini kembali terihat setengah gaian dari Bulan terlihat. Fase ini terjadi di hari kedua puluh satu, ketika bulan berada tepat pada posisi 270 derajat. Penampakannya sama seperti Bulan pada fase Kuartil III.

8. Fase Sabit Tua (Waning Crescent)
Pada fase ini Sebagian kecil dari bulan terlihat. Fase ini terjadi di hari kedua puluh lima, ketika Bulan berada pada posisi 315 derajat. Penampakan pada fase bulan terlihat sama seperti pada posisi 45 derajat. Bulan tampak seperti sabit.

F. HUBUNGAN BUMI DENGAN BULAN
Hubungan bumi dan bulan sangatlah erat. Dimana iklim dibumi dan pasang surut air laut di bumi tidak terlepas dari adanya pengaruh bulan. Berdasarkan beberapa sumber terdapat beberapa hal yang akan terjadi di bumi jika dikaitkan dengan bulan. Hal tersebut adalah sebagi berikut:
  • Tanpa bulan, bumi berputar 10 jam sehari. Bumi berputar 23,5 derajat karena adanya bulan. Jika tidak ada bulan, maka bumi berputar dalam bentuk tegak lurus.
  • Seandainya tidak ada bulan, negara inggris hanya punya dua macam musim, yaitu musim semi dan musim gugur. Di daerah kutub utara dan selatan, matahari tidak bisa terlihat di langit.
  • Air laut di bumi mengalami pasang dan surut karena bulan.
  • Tanpa bulan, tidak akan muncul makhluk hidup di daratan bumi. Pasang surut ar menyebabkan makhluk air belajar hidup di darat.
  • Bulan makin menjauh 3,8 cm setiap tahun gara-gara bumi berputar lebih lambat 16 detik tiap sejuta tahun.
Bintang : Pengertian, Penamaan. Karakteristik, Jenis

Bintang : Pengertian, Penamaan. Karakteristik, Jenis

A. PENGERTIAN BINTANG
Bintang adalah benda langit yang memancarkan cahaya. Ada benda langit yang bisa menghasilkan cahaya sendiri, adajuga benda langit yang menerima cahaya dari benda langit lain kemudian memantulkan cahaya tersebut. Nah secara umum biasanya istilah bintang hanya dipakai untuk benda langit yang menghasilkan cahaya sendiri. Bintang merupakan semua objek bermassa antara 0,08 sampai 200 massa matahari yang sedang dan pernah melangsugkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir. Bintang yang terdekat dengan bumi adalah matahari.

B. SEJARAH DAN TEORI TERBENTUKNYA BINTANG
Bintang telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak zaman dahulu kala. Bintang dulunya sering digunakan dalam praktik keagamaan, navigasi dan penentuan kalender. Pada hakikatnya, bintang adalah sebuah bola gas besar yang terbentuk dari gas dan debu. Bintang terbentuk di dalam awan molekul, sebuah area yang luas dengan kerapatan yang tinggi. Sebagian besar komponen yang terdapat pada awan ini adalah hidrogen, helium dan beberapa elemen berat lain.

Proses terbentuknya bintang biasanya diawali dengan ketidakstabilan gravitasi di dalam awan molekul. Gangguan ini biasanya dipicu oleh gelombang dari supernova akibat benturan dua galaksi. Ketidakstabilan gravitasi ini akan membuat awan yang massanya dapat mencapai ribuan kali massa matahari ini runtuh dengan gaya gravitasinya sendiri.

Bintang bintang ini terbentuk secara berkelompok karena awan molekul yang runtuh sangatlah besar, kemudian barulah mereka terpecah menjadi konglomerasi individual. Lama kelamaan bintang tersebut akan semakin bertambah kerapatannya. Pada proses ini energi gravitasi akan diubah menjadi energi panas sehingga meningkatkan temperaturnya. Ketika tercapainya kesetimbangan hidrostatik, maka sebuah protobintang akan terbentuk di intinya. Ketika peningkatan temperatur di inti protobintang mencapai angka 10 juta derajat kelvin, maka hidrogen di inti akan menjadi helium dalam suatu reaksi termonuklir. Proses ini berlangsung selama puluhan juta tahun.

Apabila kandungan hidrogen di inti bintang habis, maka inti tersebut akan mengecil dan membebaskan energi panas dan memanaskan lapisan luar bintang. Lapisan luar yang masih mengandung banyak hidrogen ini akan mengembang dan warnanya menjadi merah. Seiring berjalannya waktu bintang terbsebut akan menjadi bintang superaksasa merah kemudian membentuk nova hingga akhirnya ia kolaps dan hancur. Bintang yang hancur ini bisa berubah menjadi bintang neutron atau lubang hitam, tergantung dengan kondisinya.
pengertian, penamaan, karakteristik dan jenis bintang
BINTANG
C. PENAMAAN BINTANG
Ada sebuah konsep yang telah dipakai oleh manusia dari zaman dulu sampai zaman sekarang. Prinsip konsep ini adalah dengan membayangkan pola tertentuk yang dibentuk oleh beberapa bintang yang menonjol, kemudian mengubungkannya dengan aspek tertentu dari alam atau mitologi mereka. Konsep ini disebut dengan Konsep Rasi Bintang.

Satu satunya otoritas yang diakui secara internasional dalam penamaan benda angkasa adalah Persatuan Aastronom Internasional (IAU). Walaupun demikian banyak nama bintang yang diwarisi sebelum IAU berdiri. Nama bintang bisa berasal dari kebudayaan kuno, nama tersebut uga banyak yang berasal dari bahasa latin dan bahasa arab. Mungkin karena bangsa Arab sangat familiar dengan bintang bintang tersebut.

D. SIFAT DAN KARAKTERISTIK BINTANG
1. Diameter Bintang
Karena jaraknya yang luar biasa jauh dari matahari, semua bintang (kecuali matahari yang jaraknya paling dekat), tampak seperti titik titik kecil apabila dilihat dari bumi dengan mata telanjang. Tetapi ukuran sebenarnya dari bintang sangatlah beragam, ada bintang yang ukurannya hanya 20 – 40 km, ada pula yang ukurannya mencapai 900 juta km.

2. Kinematika (Pergerakan) Bintang
Pengamatan kinematika bintang biasanya dinilai dengan kecepatan radialnya menuju atau menjauhi matahari dan pergeserannya secara melintang. Melalui informasi ini maka ilmuan dapat mengetahui asal mula, umur, bahkan struktur dan evolusi bintang dan galaksi di sekitarnya.

3. Komposisi Bintang
Bintang bintang yang ada di galaksi kita massanya terdiri dari sekitar 71 % hidrogen dan 27 % helium serta sisanya biasa adalah molekul yang lebih berat. Karena unsur unsur berat terus bertambah di awan molekul (tempat terbentuknya bintang), maka unsur yang dimiliki suatu bintang menjadi faktor penting untuk mengetahui umur bintang tersebut. Selain itu unsur yang dimiliki suatu bintang dapat memberikan informasi tentang sistem planet pada bintang tersebut.

4. Massa Bintang
Massa dari bintang juga sangat bervariasi, yang pasti suatu benda dapat dikatakan bintang apabila ia menghasilkan cahayanya sendiri dan memiliki massa 0,08 – 200 kali massa matahari. Salah satu bintang yang paling massive adalah Eta Carinae, Massanya 100 – 150 kali massa matahari.

5. Struktur Inti Bintang
Suatu bintang akan terbentuk apabila memiliki bagian inti yang setimbang secara hidrostatis. Kesetimbangan hidrostatis ini terjadi ketika tekanan dari dalam ke luar bintang mengimbangi gaya gravitasi yang menarik bintang dari luar ke dalam. Selain berada dalam kesetimbangan hidrostatis, inti bintang juga mempertahankan kesetimbangan termal (suhu).

6. Medan Magnet Bintang
Medan magnet bintang dihasilkan dari bagian inti bintang, dimana terjadinya gerakan plasma yang berfungsi seperti sebuah dinamo. Medan magnet yang dihasilkan tersebut akan meliputi seluruh bintang. Massa, kandungan bintang dan aktivitas pada permukaan sebuah bintang merupakan faktor yang menentukan kekuatan dari medan magnet yang dimiliki bintang tersebut.

7. Rotasi Bintang
Alat yang dilakukan untuk mengukur laju rotasi sebuah bintang disebut Spektroskopi, cara lain yang juga sering digunakan adalah sengan mangamati laju rotasi bintik bintang. Bintang yang lebih muda biasnaya memiliki laju rotasi yang lebih cepat dibandingkan bintang yang lebih tua. Medan magnet dan angin bintang akan mempengaruhi laju rotasi bintang tersebut.

8. Suhu Bintang
Suhu permukaan suatu bintang akan ditentukan oleh energi di intinya, biasanya suhu suatu bintang ini diperkirakan dari indeks warna bintang. Bintang masif biasnaya memiliki suhu hingga 50.000 derajat celcius.

9. Umur Bintang
Umur bintang yang banyak ditemui saat ini biasanya adalah 1 – 10 milyar tahun. Ada bintang yang mungkin lebih tua sedikit, adapula yang lebih muda. Perkiraan umur sebuah bintang dapat dilihat dari massanya, biasanya semakin tinggi massa sebuah bintang maka semakin muda bintang tersebut.

E. KLASIFIKASI MACAM – MACAM JENIS BINTANG
1. Berdasarkan efek luminosistas suatu bintang dalam garis spektrumnya, bintang dapat diklasifikasikan menjadi :
  • 0 (Maha Maha Raksasa)
  • I (Maharaksasa)
  • II (Raksasa Terang)
  • III (Raksasa)
  • IV (Sub-Raksasa)
  • V (Deret Utama)
  • VI (Sub-Katai)
  • VII (Katai Putih)
2. Berdasarkan Suhunya, bintang dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok berikut :
  • O (Lebih dari 33.000 derajat Kelvin)
  • B (10.500 – 30.000 derajat Kelvin)
  • A (7.500 – 10.000 derajat Kelvin)
  • F (6.000 – 7.200 derajat Kelvin)
  • G (5.500 – 6.000 derajat Kelvin)
  • K (4.000 – 5.200 derajat Kelvin)
  • M (2.600 – 3.850 derajat Kelvin)
Black Hole (Lubang Hitam) : Pengertian, Ciri, Jenis

Black Hole (Lubang Hitam) : Pengertian, Ciri, Jenis

A. PENGERTIAN BLACK HOLE (LUBANG HITAM)
Black Hole atau lubang hiam adalah sebuah fenomena di luar angkasa yang merupakan pemusatan massad dari pelengkungan ruang dan waktu dengan gravitasi yang sangat kuat. Fenomena ini menyebabkan semua benda yang berada disekitarnya bisa terserap, bahkan cahaya sekalipun. Black hole biasanya digambarkan dengan lubang berwarna hitam pekat, tetapi sebenarnya bentuk nyata dari black hole bukanlah berupa lubang.

B. SEJARAH DAN TEORI TERBENTUKNYA BLACK HOLE (LUBANG HITAM)
Teori yang menyatakan adanya lubang hitam pertama kali diperkenalkan pada abad ke 18 oleh John Michell dan Pierre Simon Laplace. Kemudian teori ini dikembangkan oleh Karl Schwarzschild dengan berdasar pada teori relativitas Albert Einstein pada tahun 1916. Kemudian istilah lubang hitam semakin terkenal karena dipopulerkan kembali oleh Stephen William Hawking.

Awalnya suatu bintang terbentuk dengan kondisi tingkat radiasi dan gravitasi yang seimbang. Semakin lama, bintang ini akan kehabisan bahan bakar untuk melakukan fusi sehingga tingkat radiasinya akan semakin lemah. Ketidakseimbangan dimana gravitasinya lebih kuat membuat bintang tersebut membuat terjadinya penghancuran pada bintang tersebut. Saat mencapai suatu titik tertentu bintang ini akan kolaps dan menyebabkan ledakan yang dikenal dengan supernova.

Ledakan ini akan membuat kepadatan benda terus meningkat dan memaksa gravitasi untuk terus meningkat pula, kekuatan gravitasi inilah yang kemudian dapat menciptakan sebuah Blackhole atau lubang Hitam.

Lama kelamaan lubang hitam ini dapat mati dengan sendirinya. Seiring berjalannya waktu, lubang hitam akan terus mengecil karena tekanan gravitasinya sendiri. Hingga nanti akhirnya akan menghasilkan ledakan yang super besar. Tetapi proses ini berlangsung dalam waktu yang sangat lama, sehingga kemungkinan besar manusia tidak akan bisa mengamati terjadinya ledakan ini.
Pengertian, Ciri, Jenis Black Hole (Lubang Hitam)
BLACK HOLE (LUBANG HITAM)
Ada beberapa teori terkenal tentang Black Hole :
1. Teori Relativitas Umum
Teori ini menyatakan bahwa lubang hitam terbentuk dari bintang raksasa yang tekanan gravitasinya sangat kuat sehingga menarik energi dan materi di dekatnya. Energi dan Materi itu akan musnah setelah ditelan oleh lubang hitam.  

2. Teori Fisika Kuantum
Teori Fisika Kuantum mengatakan bahwa energi dan materi yang terserap ke lubang hitam tidak akan musnah, , melainkan akan disimpan dalam waktu yang lama. Kemudian ketika lubang hitam itu mati, maka materi dan energi yang pernah diserap akan dilepaskan kembali secara tercerai berai.

3. Teori Evolusi Bintang
Teori evolusi bintang menyatakan bahwa lubang hitam berasal dari suatu bintang biru dengan suhu permukaan melebihi 25.000 derajat celcius, pembakaran hidrogen yang berlangsung sekitar 10 juta tahun pada bintang ini akan membuatnya menjadi bintang biru raksasa. Seiring berjalannya waktu bintang itu akan menjadi dingin dan menjadi bintang merah raksasa, dalam tahap ini tarikan gravitasi bintang merah ini membuatnya mengalami ledakan dahsyat. Ledakan dahsyat dapat membuat bintang ini menjadi black hole.  

C. SIFAT DAN KARAKTERISTIK (CIRI) BLACK HOLE (LUBANG HITAM)
1. Cara Kerja Black Hole
Cara kerja blackhole adalah seperti vakum cleaner raksasa yang tidak terlihat. Gerakan blackhole sulit untuk dideteksi dan penyerapan benda benda disekitarnya berlangsung sangat cepat. Pergerakan black hole terjadi secara terus menerus dan teratur.

2. Medeteksi Keberadaan Black Hole
Sampai saat ini ilmuan masih belum menemukan cara pasti untuk mendeteksi keberadaan black hole. Mereka tidak terlihat dan meninggalkan jejak yang sulit terdeteksi. Cara yang digunakan untuk mendeteksi black hole saat ini adalah dengan mengamati bintang yang hilang secara tiba tiba.

3. Suara Black Hole
Seorang ilmuan NASA mengungkapkan bahwa saat black hole beraksi, terdapat gelombang suara dengan irama tertentu yang keluar dari black hole. Gelombang suara tersebut kemungkinan muncul sebagai hasil dari penyerapan suatu objek oleh black hole.

4. Pertumbuhan Black Hole
Hasil dari penelitian menujukkan bahwa pertumbuhan black hole dengan pertumbuhan galaksi saling berhubungan satu sama lain. Semakin padat suatu galaksi (semakin banyak bintang baru yang terbentuk) maka akan semakin besar kemungkinan black hole dapat menyerap bintang – bintang tersebut. Dengan menyerap objek yang ada disekitarnya maka massa dari black hole pun bertambah.

D. KLASIFIKASI MACAM – MACAM JENIS BLACK HOLE (LUBANG HITAM)
Berdasarkan ukuran dan kekuatannya terdapat 3 jenis black hole
1. Miniature Black Hole (Lubang Hitam Mini)
Sesuai dengan namanya, jenis black hole ini merupakan black hole yang paling kecil. Miniature black hole belum pernah ditemukan sekalipun, tetapi ilmuan mengasumsikan bahwa black hole yang massanya jauh lebih kecil dari matahari kita ini ada di suatu tempat. Miniature black hole terbentuk tidak lama setelah pembentukan tata surya berdasarkan teori Big Bang, sekitar 13 milyar tahun yang lalu.

2. Stellar Black Hole
Stellar Black Hole adalah black hole yang terbentuk dari bintang yang besar massanya lebih dari 20x massa matahari kita. Black hole jenis ini berlokasi di ruang antar bintang atau insterstellar.

3. Supermassive Black Hole
Black hole tipe ini memiliki ukuran dan kekuatan yang super besar dan biasanya terletak di pusat galaksi. Sangking besarnya, massa dari lubang hitam ini dapat mencapai miliaran kali massa matahari. Galaksi kita, bimasakti, mempunyai satu black hole supermassive di pusatnya.